Komponen Elektronika Analog
1.1
DIODA BIASA
-
Prinsip
Kerja
1.2 DIODA ZENER
-
Prinsip
Kerja
1.3 PERBEDAAN KEDUA DIODA
Berdasarkan
fungsinya, kedua dioda ini memiliki kegunaannya masing-masing. Dioda biasa
lebih digunakan untuk sebagai penyearah gelombang, klipper dan fungsi dioda
pada umunya. Sedangkan untuk dioda zener lebih kepada memberikan tegangan riverse melampaui tegangan breakdown
zener, piranti berlaku seperti sumber tegangan konstan. Atau dengan kata lain
dioda zener dibuat untuk bekerja pada daerah breakdown dan menghasilkan
tegangan breakdown kira-kira dari 2 samapai 200 Volt. Perbedaan fisik atau
bentuk dari komponennya sendiri berbeda. Bisa dilihat dari gambar kedua dioda
diatas.
1.4 KESAMAAN KEDUA DIODA
Kesamaan yang
terdapat dari kedua dioda diatas yaitu memiliki sifat-sifat yang sama. Antara lain
:
·
menghantar dengan tegangan
maju kira-kira 0.6 Volt,
·
perlawanan maju cukup
kecil,
·
perlawanan terbalik sangat
tinggi, dapat mencapai beberapa Mega ohm,
·
Arus maju maksimum yang
dibolehkan cukup besar, sampai 1000 A,
·
Tegangan terbalik maksimum
yang dibolehkan cukup tinggi, dapat mencapai 1000 V, dll.
Selain kesamaan sifatnya. Kedua dioda
ini memiliki kesamaan yaitu memiliki anoda (polaritas positif) dan katoda
(polaritas negatif).
2.1 TRANSISTOR FET
-
Prinsip
Kerja
Ada dua jenis transistor FET yaitu JFET (junction FET)
dan MOSFET (metal-oxide semiconductor FET). Pada dasarnya kedua jenis transistor memiliki
prinsip kerja yang sama, namun tetap ada perbedaan yang mendasar pada struktur
dan karakteristiknya.
2.2
TRANSISTOR JFET
-
Prinsip Kerja
Prinsip
kerja transistor JFET lebih jauh akan ditinjau
transistor JFET kanal-n. Tegangan bias antara gate dan
source adalah tegangan reverse bias atau disebut bias negatif.
Tegangan bias negatif berarti tegangan gate lebih negatif terhadap source. Perlu catatan, Kedua gate terhubung
satu dengan lainnya. Elektron yang mengalir dari source menuju drain harus
melewati lapisan deplesi. Di sini lapisan deplesi berfungsi semacan keran air.
Banyaknya elektron yang mengalir dari source menuju drain tergantung dari
ketebalan lapisan deplesi. Lapisan deplesi bisa menyempit, melebar atau membuka tergantung dari tegangan
gate terhadap source.
Jika
gate semakin negatif terhadap source, maka lapisan deplesi akan semakin
menebal. Lapisan deplesi bisa saja menutup seluruh kanal transistor bahkan
dapat menyentuh drain dan source. Ketika keadaan ini terjadi, tidak ada
arus yang dapat mengalir atau sangat kecil sekali. Jadi jika tegangan gate
semakin negatif terhadap source maka semakin kecil arus yang bisa melewati
kanal drain dan source.
Jika misalnya tegangan gate dari nilai negatif
perlahan-lahan dinaikkan sampai sama dengan tegangan Source. Ternyata lapisan
deplesi mengecil hingga sampai suatu saat terdapat celah sempit. Arus elektron mulai mengalir melalui
celah sempit ini dan terjadilah konduksi Drain dan Source. Arus yang terjadi
pada keadaan ini adalah arus maksimum yang dapat mengalir berapapun tegangan
drain terhadap source. Hal ini karena celah lapisan deplesi sudah maksimum
tidak bisa lebih lebar lagi. Tegangan gate tidak bisa dinaikkan menjadi
positif, karena kalau nilainya positif maka gate-source tidak lain hanya
sebagai dioda.
Karena tegangan bias yang negatif, maka arus gate
yang disebut IG akan sangat kecil sekali. Dapat dimengerti resistansi
input (input impedance) gate akan sangat besar. Impedansi input
transistor FET umumnya bisa mencapai satuan MOhm. Sebuah transistor JFET
diketahui arus gate 2 nA pada saat tegangan reverse gate 4 V, maka dari
hukum Ohm dapat dihitung resistansi input transistor ini adalah : Rin = 4V/2nA = 2000 Mohm.
2.3
TRANSISTOR
MOSFET
-
Prinsip
Kerja
Semikonduktor tipe p di sini disebut subtrat p dan biasanya
dihubung singkat dengan source. Ingat seperti pada transistor JFET lapisan
deplesi mulai membuka jika VGS = 0.
Dengan
menghubung singkat subtrat p dengan source diharapkan ketebalan
lapisan deplesi yang terbentuk antara subtrat dengan kanal adalah maksimum.
Sehingga ketebalan lapisan deplesi selanjutnya hanya akan ditentukan oleh
tegangan gate terhadap source. Pada gambar, lapisan deplesi yang dimaksud
ditunjukkan pada daerah yang berwarna kuning.
Semakin
negatif tegangan gate terhadap source, akan semakin kecil arus drain yang
bisa lewat atau bahkan menjadi 0 pada tegangan negatif tertentu. Karena lapisan
deplesi telah menutup kanal. Selanjutnya jika tegangan gate dinaikkan sama
dengan tegangan source, arus akan mengalir. Karena lapisan deplesi muali
membuka. Sampai di sini prinsip kerja transistor MOSFET depletion-mode
tidak berbeda dengan transistor JFET.
Karena gate yang terisolasi, tegangan kerja VGS
boleh positif. Jika VGS semakin positif, arus elektron yang
mengalir dapat semakin besar. Di sini letak perbedaannya dengan JFET,
transistor MOSFET depletion-mode bisa bekerja sampai tegangan gate
positif.
2.4
PERBEDAAN
KETIGA TRANSISTOR
Transistor JFET dan MOSFET merupakan jenis dari
transistor FET, maka disini hanya akan dibahas mengenai perbedaan transistor
JFET dan MOSFET. Perbedaan kedua transistor ini mendasar pada struktur dan karakteristiknya. Dibandingkan dengan transistor JFET, transistor MOSFET yang dikenal dengan sebutan
transistor MOS umumnya gampang rusak. Ada kalanya karena tegangan gate
yang melebihi tegangan VGS(max). Karena lapisan oksida yang amat
tipis, transistor MOS rentan terhadap
tegangan statik (static voltage) yang bisa mencapai ribuan volt. Dan juga perbedaannya yaitu pada transistor MOSFET gatenya terisolasi oleh suatu bahan
oksida. Gate sendiri terbuat dari bahan metal seperti
aluminium. Sedangkan transistor JFET tidak.
2.5
PERSAMAAN
KETIGA TRANSISTOR
Sama seperti diatas. Persamaan yang akan dibahas hanya
pada transistor JFET dan transistor MOSFET. Persamaanya yaitu kedua transistor
memiliki drain,
source dan gate yang sama.
3.
THRISTOR
- Prinsip Kerja
4.1
TRIAC
Selama setengah perioda positip, MT2 akan akan lebih positip
dari MT1, sehingga pelat atas kapasitor akan bermuatan positif. Jika tegangan
pada kapasitor muncul hingga mencapai harga yang mencukupi untuk pemenuhan arus
gate, maka Triac akan ON. Kecepatan pengisian kapasitor diatur oleh
potensiometer R2, dimana jika hambatannya besar, maka pengisiannya akan lambat
sehingga terjadi penundaan penyalaan. Jika nilai R2 kecil, maka pengisian
kapasitor akan lebih cepat dan arus yang mengalir ke beban akan tinggi. Metoda
lain adalah dengan melibatkan piranti Diac seperti terlihat pada gambar dibawah
ini. dimana sering terdapat Triac yang dikemas bersama Diac dalam satu chip dan
dikenal dengan nama Quadrac.
4.2
SCR
-
Prinsip Kerja
Jika arus anota ke
kathoda turun dibawah nilai minimum (Holding Current = IHO), maka SCR akan
segera mati (Off). Untuk SCR yang berkemampuan daya sedang, besar IHO sekitar
10 mA. Tegangan maksimum arah maju (UBRF) akan terjadi jika gate dalam keadaan
terbuka atau IGO = 0. Jika arus gate diperbesar dari IGO, misal IG1, maka
tegangan majunya akan lebih rendah lagi.
Gambar dibawah ini
memperlihatkan salah satu cara penyulutan SCR dengan sumber searah (dc), dimana
SCR akan bekerja dengan indikasi menyalanya lampu dengan syarat saklar PB1 dan
PB2 di ON kan terlebih dahulu.
Triggering untuk
penyulutan SCR dengan sumber dc ini tidak perlu dilakukan secara terus menerus,
jika saklar PB1 dibuka, maka lampu akan tetap menyala atau dengan perkataan
lain SCR tetap bekerja. Dibawah ini Memperlihatkan cara penyulutan SCR dengan
sumber bolak-balik (ac).
Dengan mengatur nilai
R2 (potensiometer), maka kita seolah mengatur sudut penyalaan (firing delay)
SCR. Untuk penyulutan SCR dengan sumber arus bolak-balik, harus dilakukan
secara terus menerus, jadi saklar S jika dilepas, maka SCR akan kembali tidak
bekerja.
Gambar dibawah ini
memperlihatkan bentuk tegangan dan pada terminal SCR dan beban. Pengendalian
sumber daya dengan SCR terbatas hanya dari 00 sampai 900.

Komentar
Posting Komentar